Selamat membaca

Laman

Rabu, 16 November 2011

Sejarah didirikannya Tugu Monas

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Pembangunan Tugu Monumen Nasional atau Monasberdasarkan keputusan Presiden RI Nomor 214 Tahun 1959 tanggal 30 Agustus 1959 tentang Pembentukan Panitia Monumen Nasional yang diketahui oleh Kolonel Umar Wirahadikusumah, Komandan KMKB Jakarta Raya. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu. Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.

Sedangkan wilayah taman hutan kota di sekitar Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas.

Ukuran dan Isi Monas

Monas dibangun setinggi 132 meter dan berbentuk lingga yoni. Seluruh bangunan ini dilapisi oleh marmer.



Lidah Api
Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton. Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan.


Pelataran Puncak
Pelataran puncak luasnya 11x11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu.


Pelataran Bawah
Pelataran bawah luasnya 45x45 m. Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian ini pengunjung dapat melihat Taman Monas yang merupakan hutan kota yang indah.


Museum Sejarah Perjuangan Nasional
Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80x80 m. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI.
Tujuan di dirikannya Tugu MONAS
 
Monumen Nasional yang lebih dikenal dengan sebutan Monas atau Tugu Monas adalah salah-satu monumen kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya bagi warga Ibukota Jakarta dan sekitarnya. Monumen ini didirikan dengan tujuan sebagai monumen peringatan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia didalam melawan penjajahan Belanda pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1945.

 Dengan adanya Monumen Nasional ini kiranya dapat menjadi sumber inspirasiserta semangat patriotisme bagi generasi yang ada sekarang dan yang akandatang. Hal-hal yang memaknai yang tersebut diatas dapat ditemui melalui 3 (tiga) tempat yang menjadi simbol bangsa yaitu didalam Monas terdapat museum yang menceritakan napak tilas sejarah Indonesia, ruang kemerdekaan yangmerupakan tempat dikumandangkan proklamasi oleh Presiden Soekarno danpelataran cawan atau ruang yang memiliki arti dan lambang proklamasi.

Sebagai sebuah Monumen Nasional, tentulah Monas menjadi suatu simbol besar yang melambangkan siapa itu Indonesia. Namun banyak orang pribumi sendiri yang tidak mengetahui maksud dan arti dari bentuk Monas itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa bentuknya menyerupai obor raksasa, Tombak besar dan bahkan ada yang mengatakan bentuknya menyerupai Mercusuar karna di cawan puncak teratas kita hanya dapat melihat-lihat kota jakarta keberbagai penjuru tanpa ada sesuatu yang mengingatkan kita akan semangat perjuangan dulu kala, seolah hanya menjadi menara pengawas aktifitas ibu kota setiap waktu.
Padahal maksud dari bentuk monas adalah sebuah alu dan lumbung yang mengartikan simbol kesuburan dan kemkamuran. Namun dimana bentuk bangunan yang mengartikan “mengenang perjuangan bangsa indonesia melawan penjajah..?”sehingga banyak orang dibuat bingung oleh bentuknya. Bukankah alu dan lumbung justru menyimbolkan bahwa bangsa indonesia adalah negara yang hanya memikirkan perut ?.

Patung perunggu berbentuk lidah api yang berada di puncak teratas tugu menyimbolkan semangat juang yang tak kenal menyerah. Namun tak jelas terlukis perjuangan apa dan untuk apa. Apakah maksud perjuangan tersebut adalah untuk meraih kekayaan ?, karena bila kita pikir patung tersebut berlapisi banyak emas.
Fungsi Monumen Nasional sebagai bangunan sakral bangsa ini telah berubah fungsi menjadi tempat untuk masyarakat berolah raga, tempat berekreasi di akhir pekan , bahkan menjadi tempat pertunjukan pentas musik akbar di akhir tahun. Lalu dimana nilai sakral Monas sebagai tempat mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa ?.
Jelas berdirinya Monas menjadi daya tarik tersendiri bagi berdirinya banyak gedung megah di sekitar taman monas yang juga menjadi pendongkrak perekonomian bangsa serta berkembangnya kehidupan kota menjadi megepolitan.apakah itu yang menjadi fungsi keberadaan Monas sebagai Monumen bangsa….?
  
Ruang Museum Sejarah. 
Merupakan sebuah Ruang Museum Sejarah yang terletak 3 meter dibawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional dengan Ukuran luas 80 X 80 meter. Dinding, tiang dan lantainya secara keseluruhan berlapiskan marmer.
Diruangan museum sejarah terdapat 51 jendela peragaan (Diorama) yang mengabadikan peristiwa-peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia hingga masa pembangunan Orde Baru.
Diruangan Museum Sejarah ini kita bisa mengenang kembali bagaimana para pahlawan dahulu memperjuangkan kemeredekaan Republik Indonesia sehingga seperti yang saat ini kita rasakan, Dari sejarah tentang Peradaban, budaya, agama, serta sejarah tentang peperangan sampai dengan perkembangan dimasa sekarang bisa kita temukan.

Ruang Kemerdekaan 
Ruang Kemerdekaan berbentuk Amphitheater yang terletak dibawah Cawan Tugu Munumen Nasional atau Monas. Didalamnya terdapat 4 (empat) Atribut Kemerdekaan Republik Indonesia,Peta Kepulauan Negara Republik Indonesia, Bendera Sang Saka Mera Putih, Lambang NegaraBhineka Tunggal Ika dan Pintu Gapura yang berisikan Naskah Proklamasi Kemeredekaan Indonesia.

Pelataran Puncak
Pelataran Puncak Tugu Monumen Nasional terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman Tugu Monumen Nasional. Dengan elevator tunggal berkapasitas maksimum 11 orang pengunjung dapat mencapai Pelataran Puncak yang luasnya 11 X 11 meter dan dapat menampung sebanyak 50 orang Di pelataran ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Di sekeliling rangka elevator didalam badan tugu, terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi.
Dari atas Pelataran Puncak Tugu Monas kita bisa menggunakan Teropong untuk melihat-lihat kota jakarta yang mana teropong ini disewakan dengan harga 2000 / coin selama 1,7 menit.
Jadi tidak terlalu sulit untuk melihat-lihat kota Jakarta.

Lidah Api Kemerdekaan
Lidah Api di pelataran Puncak dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan dengan diameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh permukaan Lidah api berlapiskan emas (gold leaf) seberat lebih kurang 50 kg. Ketinggian dari halaman Tugu Munumen Nasional sampai dengan puncak Lidah Api adalah 132 meter.

PEMANFAATAN MONAS

  1. Pemanfaatan bagi masyarakat luas untuk menghayati sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, melalui sajian visual dari adegan diorama di ruang MONAS.
  2. Memelihara kelestarian taman medan merdeka dan jalur MONAS yang berfungsi sebagai unsur penunjang terhadap keagungan MONAS.
  3. Meningkatkan penanganan kebersihan dan keasrian taman medan merdeka sebagai paru-paru ibukota jakarta.
  4. Meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke ibukota Jakarta, baik wisata nusantara maupun asing dan sebagai upaya meningkatkan pendapatan asli daerah.
  5. Pemanfaatan taman sebagi tempat rekreasi, kegiatan senam kesegaran jasmani, kesenian, kebudayaan dan kegiatan sosial.

BERANI MODAL AWAL ENTREPRENEUR

Seperti yang dipaparkan oleh Bob Sadino. bahwa kunci suksesnya selama ini adalah jalankan saja bisnisnya tanpa banyak teori, dengarkan keluhan dan saran dari customer, karena banyak orang yang berteori pastinya merasa lebih pintar dan terkadang takut untuk mengambil resiko, sehingga bisnisnya tidak pernah jalan. Berangkat dari situ saya mengambil beberapa tulisan dari entrepreneur-entrepreneur yang sudah sukses, bahwa modal utama dari seorang entrepreneur adalah harus BERANI. Berani apa saja? yaitu;

1. Berani Mimpi
2. Berani Mencoba
3. Berani Merantau
4. Berani Gagal
5. Berani Sukses

Yang pertama saya ingin bahas adalah rumus pertama, BERANI MIMPI. Enterpreneur itu memang harus berani bermimpi. Bagaimana dengan anda? Saya rasa, meski disaat krisis ekonomi, kita janganlah merasa takut bermimpi. Sebab kita harus yakin bahwa mimpi atau visi itu sama dengan cetak biru (blue print) dari realita. Artinya, sesuatu yang akan menjadi kenyataan.

Para pakar mempunyai keyakinan, kalau entrepreneur berani memiliki visi, maka akan lebih dapat menciptakan kekuatan positif di dalam pikirannya. Sehingga nantinya akan lebih mampu meningkatkan kemampuan kerja dan kualitas hidup kita. Karena itu saya yakin dengan ungkapan berikut ini: "hati-hatilah dengan angan-anganmu, karena angan-anganmu itu akan menjadi kenyataan."

Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, pernah mengatakan, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit." Visi itu memang bisa mensugesti orang. Dan, semua langkah kita akan kita arahkan kesana. Apalagi Entrepreneur itu biasanya seorang pemimpin. Maka mimpi tentang perusahaan, mimpi tentang masa depan, tentu akan dapat mempengaruhi para pengikut yang dipimpinnya.

Sebagai pemimpin, entrepreneur harus memeliki ilmu "obor". Artinya harus dapat menerangi sekelilingnya. Entrepreneur dengan visi bsar adalah obor bagi para bawahannya. Entrepreneur dengan visi besar akan menciptakan lingkungan kerja yang dinamis dan penuh motivasi.

Entrepreneur itu sosok yang seharusnya tidak takut dengan mimpi. Apalagi mimpi itu tidak perlu biaya. Tetapi, masalahnya adalah belum tentu semua orang punya keberanian bermimpi. Sehingga tidak berlebihan kalau untuk bermimpi pun membutuhkan sebuah keberanian.

Hal itu bisa terjadi karena kita terkadang masih terpaku pada mitos-mitos, yang telah mentradisi di kalangan masyarakat yang luas. Misalnya, ada mitos yang mengatakan, bahwa kalau kita mau sukses, kita harus punya gelar sarjana. Padahal kenyataanya, cukup banyak orang yang sukses tanpa menyandang gelar sarjana. Banyak pengusaha yang memulai usahanya dengan mengembangkan mimpi-mimpinya dari nol.

Kita lihat saja bagaimana Bill Gates yang bermimpi, bahwa personal computer akan tersedia di rumah setiap orang. Untuk merealisaikan mimpinya, ia rela drop out dari studinya, dan lebih menekuni microsoft-nya. Ternyata ia berhasil. Sehingga ia kini menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Begitu pula Michael Dell. Impiannya juga menakjubkan, yaitu ia ingin mengalahkan mengalahkan perusahaan komputer raksasa IBM. Akhirnya, ia juga berhasil jadi orang pertama memasarkan komputer pribadi dengan strategi direct marketing. Usahanya yang dirintis tahun 1984 berhasil, buktinya penjualan Dell Computer sangat laris. Bahkan, Dell dalam usia 34 tahun berhasil menjadi salah satu orang terkaya di Amerika Serikat

Contoh lainnya adalah Jeff Bezos. Mimpinya ingin jadi pengusaha sukses di dunia perdagangan melalui internet. Meski baru tahun 1995, yaitu di saat usianya 30 tahun, ia memberanikan diri masuk ke dunia maya. Ia mendirikan Amazon.com yang merupakan salah satu situs yang paling banyak dikunjungi orang, untuk mendapatkan informasi atau membeli buku-buku bermutu dari seluruh dunia. Mimpinya akhirnya terwujud juga. Dan kini ia juga tercatat sebagai milyader
di negeri paman sam itu.

Dalam konteks inilah, kita sebagai entrepreneur memang memiliki keberanian dalam mimpi. Kita juga harus punya keyakinan, bahwa rezeki itu akhirnya mengikuti mimpi kita. Dan sebetulnya, rezeki itu bisa direncanakan menurut mimpi kita. Rezeki itu berbanding lurus dengan mimpi kita.

Langkah Aplikatif Mahasiswa Dimulai dari Sini

Ketika memulai tulisan ini yang bertema peranan mahasiswa untuk Negara, muncul bayangan tentang kondisi rakyat Indonesia saat ini. Begitu banyak rakyat di Negeri ini hidup dalam kesusahan. Jutaan orang hidup dalam kemiskinan. Dari hari ke hari, mereka menjalani kehidupan di bawah garis kemiskinan sampai akhir ajal pun hanya memiliki bekal sedikit makanan dan pakaian sekadarnya. Kemiskinan tersebut untuk selanjutnya bergulir kepada generasi penerusnya dan tidak pernah memberikan tanda kapan ia lelah dan memutuskan untuk berhenti.
Tidak perlu menjabarkan angka statistic kemiskinan di Indonesia yang saat ini menjadi dokumen Negara jika hanya ingin menyadari banyaknya orang miskin di negeri ini. Ketika melakukan perjalanan ke kampus lewat Gang Damai Barel (Belakang Rel), terekam mozaik-mozaik kemiskinan negeri ini. Seorang yang tua renta duduk dan menengadahkan tanggannya di lorong gang Damai, berharap kedermawanan orang-orang yang melewatinya. Orang tua tersebut duduk di jalan yang basah oleh gerimis dengan dua orang anak dibawah umur, salah satu diantara mereka tertidur pulas dan yang lain bermain tanah. Kemiskinan membuat mereka bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan tersebut.
Mozaik kemiskinan yang lain terpatri ketika melewati lorong Blok FISIP. Dua anak menjajakan dagangannya kepada para mahasiswa, satu diantaranya menjual Koran dan yang lain menjual tissue. Mereka berusia sekitar 12 tahun dimana seharusnya menggunakan waktu paginya untuk menyiapkan diri berangkat ke sekolah. Tetapi kemiskinan mengehentikan mereka untuk melangkahkan kakinya ke tempat yang seharusnya mereka tuju.
            Mahasiswa yang berlalu-lalang diantara potret-potret kemiskinan melenggang santai, adapula diantara mereka yang mungkin karena takut terlambat kelas jam pertama tidak menyadari pajangan foto-foto kemiskinan tersebut. Namun diantara mereka juga ada yang berbelas kasih dan membagi nikmat yang mereka miliki. Sampai saat ini belum ada survey tentang kuantitas dan intensitas mahasiswa yang melakukan kegiatan tersebut, mungkin karena asumsi kuno yang menyatakan bahwa jika tangan kanan memberi lebih baik tangan kiri tidak mengetahui.
            Merespon potret kemiskinan di jalanan ketika menuju kampus merupakan salah satu peranan mahasiswa untuk Negara. Negara yang diwakili oleh Pemda mungkin tidak membuat program khusus dalam menangani kemiskinan di sekitar kampus bukan? Oleh karena itu mahasiswa sekiranya dituntut mengatasi kemiskinan yang ada disekitar lingkungan mereka. Tidak perlu terlalu muluk untuk menanggapi di tingkat nasional, minimal mulai dari tingkat lingkungan sekitar, tentu dengan orientasi perkembangan yang berkelanjutan.
            Apakah memberi sebagian uang jajan untuk masyarakat miskin (peminta-minta dan anak jalanan) yang dilakukan oleh mahasiswa dapat mengurangi kemiskinan? Dan apakah mahasiswa tersebut sudah dapat dikatakan menjalankan peranannya kepada Negara? Belum, sekiranya itu jawaban yang saya ajukan. Argument terhadap pendapat tersebut berdasarkan fakta empiris yang saya lihat. Beberapa mahasiswa memberikan uang dengan nominal terkecil yang sedang mereka miliki saat itu kepada para peminta-minta. Walaupun secara akumulatif si peminta akan mendapatkan hasil yang lumayan besar dari kegiatan meminta-mintanya tetapi hal tersebut tidak lantas menjadikannya hidup lebih sejahtera dari sebelumnya. Alhasil, keesokan harinya peminta-minta akan tetap melakukan kegiatan tersebut lagi dan lagi.
            Salah satu status yang dilekatkan masyarakat pada mahasiswa adalah seorang intelektual. Dengan intelektualitas yang dimilikinya diharapkan ia menjalankan role-nya dalam masyarakat (berperan dalam Negara). Seorang intelektual berpikir sebelum melakukan tindakan, orientasi tindakannya adalah kebermanfaatan, dan menekankan inovasi dalam tindakan-tindakan yang dilakukannya. Nah, bertolak dari pemamparan tersebut maka secara aplikatif mahasiswa dapat berperan dalam menangani kemiskinan di lingkungannya dengan mengasah intelektualitasnya.
            Sebelum memberikan uang dengan nominal yang dipunyai, seorang mahasiwa harus berpikir apakah dengan uang tersebut sang peminta dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Kalau jawabannya tidak maka jangan melakukan hal tersebut. Kumpulkan uang-uang yang diniatkan untuk memberi para peminta-minta. Setiap mahasiswa mempunyai kemampuan berorganisasi. Maka untuk masalah ini diperlukan pembentukan oraganisasi yang khusus menjalankan program pengurangan kemiskinan di sekitar kampus. Lalu apakah uang yang terakumulasi langsung saja diberikan kepada mereka yang membutuhkan? Disini mahasiswa perlu inovasi dalam melakukan tindakan yang akan dilakukannya.
Inovasi dalam hal ini misalnya saja memberikan modal kepada para peminta-minta tersebut untuk membuka usaha. Control permodalan tersebut di tangan organisasi yang telah dibentuk. Dengan modal yang ada maka mahasiswa menghindarkan seseorang dari tindakan meminta-minta, dan secara tidak langsung meningkatkan pendapatan sang peminta-minta. Jika ditelaah lebih jauh tentu hal tersebut turut menyumbang peningkatan pendapatan perkapita. Atau dengan uang yang terkumpul tersebut dapat digunakan untuk memberikan biaya bagi pendidikan anak yang jualan Koran dan tissue. Yang perlu ditekankan disini adalah langkah aplikatif dan inovatif dalam tindakan mengurangi kemiskinan di lingkungan sekitar.
Selain inovasi dari hasil intelektualitas ada strategi lain untuk melakukan pengurangan kemiskinan di lingkungan sekitar kampus. Keterbatasan uang jajan membuat mahasiswa berpikir ulang untuk memberikan uang kecilnya kepada orang miskin. Lain dengan orang yang telah memiliki pendapatan sendiri. Bukankah mahasiswa belum bekerja, lantas dari mana datangnya pendapatan itu? Berwirausaha, mahasiswa dibentuk dengan kemampuan dasar untuk mandiri. Seharusnya ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah diaplikasikan dalam bentuk wirausaha. Saat ini banyak diantara wirausaha yang memulai bisnisnya sejak ia berada di bangku kuliah. Contohnya Baba Rafi, seorang penggagas usaha “Kebab Turki”. Ia memulai usaha bisnisnya saat ia mengenyam bangku kuliah di ITS. Role model selanjutnya dapat dilihat dari Nancy Margaried dengan konsep usaha “Batik Fracktail”nya. Batik Fractail merupakan software motif batik yang memudahkan produksi batik. Konsep tersebut didapatkannya dari logika dan rumus-rumus matematikanya saat di bangku kuliah. Ia dapat menjual sebesar 2 juta per software.
Itulah beberapa contoh mahasiswa diluar kita yang telah berpendapatan dengan dasar pengetahuan dan waktu yang mendukung mereka ketika berada di bangku kuliah. Tak jauh mengambil contoh, Chandra Krisna Hermawan mahasiswa FISIP, jurusan Administrasi Niaga 2006. Kini ia telah sukses menjadi seorang wirausaha muda dengan konsep pembuatan pin-pin lucu. Konsep-konsep yang diusung oleh mahasiswa terkadang memang tampak sederhana dan imposible. Namun dengan optimisme dan pantang menyerah yang melekat pada jiwa mudanya semua akan tampak mudah dilakukan.
Itulah salah satu tindakan aplikatif mahasiswa untuk mengurangi kemiskinan di lengkunagn sekitar kampus. Dengan berpendapatan sendiri maka kecenderungan untuk memberikan lebih banyak semakin besar. Namun ada satu hal yang perlu diingat ketika seorang mahasiswa berwirausaha dengan orientasi kebermanfaatan. Mereka tidak hanya menekankan usaha pada profit oriented, tetapi mengkategorikan usahanya sebagai wirausaha social. Wirausaha social sama seperti wirausaha di dunia bisnis, memanfaatkan peluang bisnis untuk mendapatkan profit. Namun, wirausaha social yang dijalankan mengalokasikan profitnya untuk kepentingan social.
Dari intelektualitas yang dimiliki oleh mahasiswa maka akan tercipta suatu perubahan. Kondisi sekitar yang memprihatinkan mengharuskan mahasiwa untuk bertindak aplikatif. Mahasiswa harus menjadi pendorong tumbuhnya pemimpin-pemimpin yang memperjelas arah perjalanan bangsa kearah yang lebih maju. Mahasiswa dengan semangat mudanya diharapkan dapat menjadi roh semangat kebangsaan dalam konteks baru. Seperti kata Imam Prasojdo, Dosen Pengabdian Masyarakat FISIP UI, bahwa mahasiswa harus mampu menemukan “software social baru” untuk menopang kondisi Negara saat ini. Untuk mempermudah tugas kita semua sebagai mahasiswa maka kita persempit tanggung jawab kita pada Negara, kita mulai peran kita pada tingkat lingkungan social kita. Langkah yang aplikatif penuh semangat dan pantang menyerah, dimulai saat ini dan dari sini.

Pentingnya Peranan Pemuda

DISADARI atau tidak, pemuda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda merupakan aktor dalam pembangunan.

Peran penting pemuda telah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, proklamasi kemerdekaan tahun 1945, pergerakan pemuda, pelajar, dan mahasiswa tahun 1966, sampai dengan pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun sekaligus membawa bangsa Indonesia memasuki masa reformasi. Fakta historis ini menjadi salah satu bukti bahwa pemuda selama ini mampu berperan aktif sebagai pionir dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan bangsa.

Dalam proses pembangunan bangsa, pemuda merupakan kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan sebagai perwujudan dari fungsi, peran, karakteristik, dan kedudukannya yang strategis dalam pembangunan nasional. Untuk itu, tanggung jawab dan peran strategis pemuda di segala dimensi pembangunan perlu ditingkatkan dalam kerangka hukum nasional sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam Pancasila dan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, kebangsaan, kebhinekaan, demokratis, keadilan, partisipatif, kebersamaan, kesetaraan, dan kemandirian.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Pemuda, disebutkan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Pembangunan kepemudaan adalah proses memfasilitasi segala hal yang berkaitan dengan kepemudaan yang bertujuan untuk terwujudnya pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggungjawab, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, dan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan UUD 45 dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuhkembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental-spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum. Sebagai kontrol sosial diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggungjawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan memberikan kemudahan akses informasi. 

Sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

Problematika Pemuda
Problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sangatlah kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis eksistensi, krisis mental hingga masalah dekadensi moral. Budaya permisif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan serba instant, hedonis, dan terlepas dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial. 

Bila sudah demikian, apakah masih relevan pemuda dikatakan sebagai agen perubahan di masa saat ini? Hanya pemudalah yang mampu menjawab pertanyaan ini, yakni melalui konstribusi positif pemuda yang dibuktikan dengan semangat yang tinggi dalam proses pembangunan di segala dimensi.

Adapun masalah lain yang turut menjadi pemicu terancamnya posisi pemuda adalah lemahnya pengawasan orang tua, keluarga, serta orang terdekat termasuk pula lemahnya pemahaman pemuda terhadap agama, melanggar tatanan hukum yang berlaku, dan lain sebagainya mengakibatkan pemuda banyak terjerumus dalam pusaran pergaulan yang mengantarkan pemuda pada titik kehancuran. Fakta yang ada sekarang menjadi bukti hal tersebut, misalnya dari beberapa hasil penelitian mengemukakan bahwa seks bebas, penyalahgunaan narkoba, justru lebih banyak dilakukan oleh pemuda. Hal ini menjadi tugas bersama berbagai elemen guna menyelamatkan pemuda, sekaligus menyelamatkan bangsa dari krisis kepemudaan yang berprestasi.

Oleh karena itu, masalah kepemudaan telah menjadi isu sekaligus problematika global karena menyentuh tataran nilai sosial dan budaya masyarakat hampir di seluruh belahan bumi ini. Masalah kepemudaan pun telah berkembang sebagai wacana global dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir, dibuktikan dengan masalah kepemudaan yang menempati posisi strategis dalam berbagai agenda pertemuan berskala bilateral, regional dan multilateral. 

Negara-negara di dunia seolah benar-benar merasakan bahwa pemuda merupakan komunitas strategis yang apabila tidak dijaga dan dikembangkan potensinya akan mengancam proses regenerasi pembangunan berbangsa dan bernegara.

Pemuda sebagai agen perubahan tidak akan mampu melakukan perubahan yang signifikan bila tidak didukung dengan sebuah sistem atau perangkat-perangkat pendukung. Untuk itu pemerintah pun telah menerbitkan seperangkat aturan yang khusus mengatur masalah kepemudaan, yakni Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. Undang-undang tersebut berorientasi pada pelayanan kepemudaan untuk mewujudkan pemuda Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggungjawab, dan berdaya saing.

Seperangkat aturan saja tidaklah cukup untuk melindungi pemuda dari berbagai kemungkinan terburuk, tanpa didukung oleh peran pemerintah, masyarakat, swasta, dan lain sebagainya dalam implementasi seperangkat regulasi. Untuk itu harus dicari solusi agar proses pengembangan potensi pemuda bukan hanya terbentuk dalam rencana semata, melainkan direalisai melalui mekanisme yang sudah diatur sedemikian rupa. Salah satunya adalah organisai yang memang merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki pemuda, sebab organisasi merupakan sarana paling efektif untuk menginisiasi dan melakukan perubahan tersebut.***

korupsi

Banyak para ahli yang mencoba merumuskan yang dinamakan KORUPSI, yang jka dilihat dari struktrur tata bahasa dan cara penyampaiannya yang berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai makna yang tidak berbeda. Kartono (1983) memberi batasan tentang korupsi sebagi tingkah laku individu yang menyalah gunakan wewenang dan jabatan guna mengeruk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum, bangsa dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai atau salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi atau golongan, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (misalnya dengan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.
Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan dan jabatan yang dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi atau golongan dengan mengatasnamakan pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. Wertheim (dalam Lubis, 1970) menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar Dia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah tersebut adanya simbiosis mutualisme yang negatif. 

Terkadang orang yang menawarkan sesuatu dalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam kategori korupsi. Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada keluarganya atau partainya/ kelompoknya atau orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengannya, juga dapat dianggap sebagai perbuatan korupsi. Dalam keadaan yang demikian, jelas bahwa ciri yang paling menonjol di dalam perbuatan korupsi adalah tingkah laku pejabat yang melanggar azas pemisahan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, pemisaham keuangan pribadi dengan masyarakat.

Yang jelas Korupsi mempunyai dampak yang sangat luas dan mempunyai sifat sistemik dan berakibat yang sangat luas, menghambat tata pemerintahan dan pembangunan  sehingga Korupsi harus di STOP agar tidak menjadi sebuah virus yang mematikan sendi-sendi kehidupan

Minggu, 30 Oktober 2011

Kepercayaan

Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya.
Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk- bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang benar. Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur.
Sekalipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradis-tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi untuk tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan nilai-nilai, maka dalam kenyataan ikatan-ikatan tradisi sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Disinilah terdapat kontradiksi kepercayaan diperlukan sebagai sumber tatanilai guna menopang peradaban manusia, tetapi nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan mengikat, maka justru merugikan peradaban.
Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai sumber dan pangkal nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan.

MANUSIA

Membicarakan mengenai manusia, maka akan muncul berbagai macam pertanyaan. Apa itu Manusia? Apa beda Manusia dengan makhluk-makhluk lain.Ada berbagai macam definisi manusia. Ada definisi yang memandangnya dari segi fisiologis ada juga yang memandangnya dari segi sosiologi, dan lain-lain.
Dari segi fisiologis bahwa manusia itu makhluk yang mempunyai fisik hampir sama dengan hewan. Hewan punya kepala, maka manusia punya kepala. Hewan punya telinga, maka manusia punya telinga. Hewan punya kaki, maka manusia pun punya kaki. Dari segi fisiologis bisa dikatakan tidak ada beda antara manusia dengan hewan.
Jika kita mendefinisikan manusia hanya melalui segi fisiologis saja, maka kita akan dibuat kebingungan. Di antara manusia itu saja terjadi perbedaan bentuk fisik. Ada yang gendut, kurus, ada yang langsing. Ada yang bisa melihat dan ada yang (maaf) buta. Jika terjadi perbedaan seperti itu, maka mana yang pantas disebut sebagai manusia?
Maka dari itu, kita harus mendefinisikan manusia kembali dengan sudut pandang lainnya. Menurut saya, definisi manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dan dianugerahiNya akal, hati, fisik. Yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah akal. Maka ada yang berpendapat bahwa manusia itu hewan yang berakal. Karena dari segi fisik memang tidak ada beda dengan hewan tetapi yang membedakannya adalah akal. Manusia  mempunya sisi baik dan sisi buruk. Tetapi kita juga jangan lupa bahwa manusia itu juga punya fitrah / kecenderungan untuk menyempurnakan diri. Bagaimana manusia menyempurnakan dirinya? Manusia dalam proses penyempurnaan diri itu membutuhkan yang namanya pengetahuan.